Pernah ada ketika
aku dan seluruh dunia terpenjara di ranjang
pengasingan itu menyuburkan sunyi hingga warasku bercalar
aku yang sedia gersang dek kemarau dua dekad menjadi kemaruk
madu setitis aku jilat rakus, meski sudah tercemar
Dalam rintihan dan perangku sendiri
aku mencari kesudian insan menghulurkan madu barang setitis
lalu terpandang wajah kamu yang sejuk
senyumanmu membaja lagi kepinginku pada madu
Buih kata kita terapung lama
menari-nari dek gurau yang menggoda
hingga ia berona pelangi
lalu pecah menjadi ketawa yang tidak sempat disembunyikan
Bibir kita sama, bersalut madu
bicara kau dan aku manisnya ketara
terbaja hati yang sebelumnya lara
entah bila terbinanya rasa
Dalam hiruk pikuk alam maya
antara sunyi dunia realiti
kehausan dua hati mula terubat
tanpa pernah disebut, azan atau simran
No comments:
Post a Comment